Putra hanya diam dan senyum kecil membereskan alat lukis kesayangannya. Sambil merebahkan tubuh kecilnya, Putra yang baru berusia 10 tahun itu memandangi langit atap kamarnya, seolah menghayalkan sesuatu yang hanya ia sendiri yang tau.
Pagi-pagi buta Putra sudah terbiasa bangun, seperti halnya hari-hari sebelumnya, Putra harus memetik buah kopi di ladang sepeninggal ayahnya. Untuk membantu meringankan pekerjaan ibunya.
“Bu, hari ini gerobak Putra penuh bu, monyet-monyet pencuri itu tidak nampak lagi, sepertinya mereka tertidur pulas gara-gara hujan semaleman,”teriak Putra sambil mendorong gerobaknya ke tempat perapian teras rumahnya.
“Syukurlah, rejeki hari ini bertambah, ya sudah mandi gih sana, ibu sudah masak yang enah buat kamu”. Sambung ibunya sambil tersenyum. Lalu melajutkan kembali tumbukan yang masih besar-besar.
“Iya bu, Putra mandi dulu yah,”jelas putra.
Ibu Putra yang bernama bu Fahmi ini adalah sosok wanita yang masih muda, baru dapat poin kehidupan 26 tahunan, soalnya dulunya nikah muda dengan sosok lelaki berusia 25 tahun, mungkin karena kemelut cinta yang membuatnya semakin dewasa dalam rentan usia yang paspasan. Hanya saja satu yang disayangkan, ayah Putra, pa Santo, yang harus pulang ke Rumah Tuhan di usia 30 tahun, usia yang masih sangat muda. Namun ya begitulah takdir, tak ada yang bisa dipungkiri, segala sesuatu yang sudah digariskan Tuhan, itulah yang akan terjadi.
***
5 tahun mekudian
Udara Garut masih sangat sejuk, siang hari panas sekalipun, karena pohon-pohon rindang dan daerah pegunungan yang kaya tanaman rempah-rempah inilah Garut begitu terlihat asri. Bahkan dapat julukan Garut kota Intan. Itu karena Garut enak dilihat, alam sekitarnya masih sangat indah dan sejuk. Tiap hembusan nafas yang dihirup, mengandung berjuta-juta butir intan berharga. “Bu, hari ini kelulusan di SMP Putra, do’ain Putra ya bu, semoga Putra LULUS dengan niali yang sangat memuaskan, biar ibu bangga sama Putra !!” sambil mengulurkan tangan dan mencium tangan ibunya, ibunya mengangguk dan tersenyum sambil mengelus-elus kepala Putra, tandanya mengiyakan. Hanya saja ibunya Putra tidak mampu berkata-kata, saking terharunya melihat anaknya sudah tumbuh besar. “Putra pamit ya bu, assalamu’alaikum,” Putra melambaikan tangan. “Waalaikumsalam, hati-hati ya Put”. Sahut bu Fahmi melambaikan tangannya.
Beberapa saat kemudian,.
“Waalaikumsalam mba, tumben nelpon?”
“Iya mba Alhamdulillah, mba dan keluarga gimana kabarnya?”
“Putra lagi ngambil kelulusan mba”
“Maunya begitu, tapi lihat nati aja deh, mudah-mudahan bisa masuk Negeri.”
“Ga ah mba, takut ngerepotin, disini juga ada Negeri yang deket ko !!”
“Astagfirullah, mba’ bukan begitu, tapi …………………………..”
Nut…nut…nut…nut..
“hallo..hallo..mba’..hallo..”
Telpon dari kaka ipar bu Fahmi terputus. Bu Fahmi hanya diam lemas, sepertinya dia dapat masalah dari iparnya itu. Dia pun meneruskan menumbuk kopinya, berharap gerobaknya bisa habis.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba adasuara orang berteriak,,
“bu..??..bu Fahmi..!!..bu..!! ini bu, anu, itu bu, saya itu bu, anu..” pa hansip datang, namun bicaranya ga jelas seperti ketakutan. “Iya pa ada apa, bicara yang jelas, ada apa,,? Nih minum dulu, biar tenang..!!” sahut bu Fahmi, menenangkan pa hansip itu dengan member segelas air putih.
“Ada apa pa??” Tanya bu Fahmi.
“Itu bu, Putra bu, kecelakaan, motornya ditabrak truk, sekarang dijalan mau di bawa ke rumah sakit sama Pa Madi, guru nya, barusan saya ketemu dijalan, pa Madi ngasih amanat pada saya untuk menyampaikannya sama ibu.” Jelas pa hansip itu sambil ngos-ngosan.
“Astagfirullah Putra..Putra..sudah dibilangin jangan ngebut-ngebut..Ya Allah..Gustiii nu aguuung Putra,,,”ibu Putra nangis terisak-isak,mengeluh.
Segera ganti baju, dan beranjak pergi menuju rumah sakit tempat dimana Putra dirawat. Sesampainya disana, ibu Putra jatuh pingsan, karena anak semata wayangnya itu harus terbaring lemah tak berdaya di ruangan yang penuh kabel itu.
***
Seminggu kemudian Putra baru diperbolehkan pulang ke rumah. Hanya masih sedikit lemes, mungkin karena kaku seminggu tidak bergerak.
“Lain kali ingat nasehat ibu mu ini Put, kalau sudah begini kamu sendiri kan yang ngerasain sakit, ga bisa kemana-mana, makan disuapin, jalan dipegangin, mandi mesti di mandiin, pake baju dibantuin, segala hal yang seharusnya dilakukan sendiri malah jadi ngerepotin orang. Kerjaan ibu kan bukan hanya ngurusin kamu kaya gini, masih banyak hal-hal lain yang harus ibu kerjakan. !!”ibu Putra ngomel-ngomel, sambil nyuapin Putra makan, serasa punya bayi lagi. Putra hanya diam, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Kriiing…kriiing… dengan segera bu Fahmi mengangkat telpon rumahnya.
“Waalaikumsalam mba’..alhamdulillah sehat..”
“Iya sudah baikan ko mba’, tuh lagi duduk-duduk di teras.”
“Kenapa mba’ ??”
“Tapi mba’..!!!!!!”
“Ya sudah nanti saya bicarakan..”
“Iya mba’, insya allah.”
“Waalaikumsalam..”
Ibu Putra keluar, duduk di dekat Putra, lalu berkata “Put, bude mu nyuruh kamu ngelanjutin SMA nya di Jakarta, katanya nilai kamu lumayan bagus, disana ada sekolah Negeri yang nantinya bisa ngejamin masa depan kamu kalau kamu berhasil mencapai rata-rata, insya allah kamu dapet beasiswa, kamu ngertikan maksud ibu nak ?? kamu kan mau bahagiain ibu, inilah saatnya kamu berusaha buat ngebuktiin bahwa kamu bisa bahagiain ibu dan bapak kamu.”kata ibu Putra.
“Tapi bu, Putra disini saja, Putra mau bantu ibu ngurusin ladang ibu, Putra juga bisa ngejar beasiswa di sekolah disini, Putra mau sama ibu aja,!!” sambung Putra.
“Put, ibu baik-baik saja kalau Putra nurut sama ibu, masa ibu harus ikut kamu ke Jakarta, ladang siapa yang ngurus?? Oh..iya, bude mu minta nya lusa kamu ke Jakarta, biar adaptasi dulu sama lingkungannya,.”sambung ibu Putra kembali.
“Bu, Jakarta itu keras, kata orang-orang Jakarta itu pemerasan !!”sahut Putra.
“Hidup adalah pilihan, bagaimana kamu bisa milih jika dari dulu sampai sekarang dan kedepannya kamu hanya mengandalkan perkataan orang, hidup juga perubahan, menuju kesuksesan. Hidup itu harus diperjuangkan, dimulai dengan mengenal hal-hal baru, berani mengenal yang baru, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Itu baru namanya anak ibu !!” ibu Putra terus meyakinkan Putra.
“Yasudah bu, apapun itu, Putra nurut sama ibu deh..” Putra akhirnya nyerah dari perdebatan dengan ibunya.
***
Udara pagi Jakarta memang masih terasa sejuk, karena belum ada hilir mudik kendaraan yang asapnya memuakkan. Seandainya saja keadaan Jakarta terus pagi, mungkin udaranya juga terus sejuk seperti ini.
“Bude, Putra berangkat ya !! assalamu’alaikum !!” teriak Putra.
“Iya Put, hati-hati ya, waalaikumsalam !!” jawab bude.
SMAN 12 JAKARTA, itulah tepatnya tulisan yang ada di gapura sekolah Putra yang baru, sebagai siswa baru, Putra belum tau banyak keadaan sekolahnya itu, yang pertama dicari tau sama Putra adalah, apakah ada ekskul melukis?? Apakah lapangan basketnya bersih?? Bola puttsalnya keras ga’??hemm..mm..dari sejak kelas 4 SD sampai sekarang Putra memang tidak pernah berubah, kemana-mana pasti bawa kuas sama gulungan kertas karton. Tiba-tiba…brukk !!!!! Putra menabrak seseorang, “upzzd, maaf, ga sengaja !!” kata Putra. “Iyahh ga apa-apahh !!” sambung orang itu. “hah..emang orang Jakarta kalo ngomong ujungnya pake H yah ??” dalam hati Putra bergumam.
“Hmm.mm..kamu murid baru yah?? Sayah juga murid baru ko !! nama sayah Valiomoccaly, biasa dipanggil Mocca, nama kamu siapah ?” kata sosok gadis cantik berambut panjang,pirang,lurus,kulit putih,daaaan sweet itu.
“Nama saya Andanisyahputra, biasa dipanggil Putra,!!” ucap Putra gugup.
“Okehh, salam kenal ajah yah!! Sampai ketemu dikelas!!”sambung Mocca sambil bergegas pergi dan melambaikan tangannya.
“Oh..iya iya iya iya iya.” Mata Putra masih menatap dalam sosok wanita itu.
***
Mocca yang baik hati, selalu terbuka pada siapa saja yang mau berteman dengannya sekalipun ia anak orang kaya, Mocca gadis yang rajin dan ramah ke semua orang, buktinya ia mau berteman dengan Putra, sekalipun Putra bukan asli Jakarta, dan bukan anak orang kaya.
Akhirnya Mocca jadi sahabat baik Putra. Sekalinya Putra pulang kampung, Mocca selalu dibawain kopi hasil tumbukkan ibunya Putra. Maklum lah Jakarta tidak pandang bulu, ga lelaki, ga perempuan, ga tua, ga muda, ngopi sudah mendarah daging di kebiasaan mereka. Bedanya, kopi yang langsung ditumbuk secara alami rasanya lebih harum dan aromanya membuat Mocca ketagihan.
Tiap pulang sekolah Putra harus jemput keponakannya yang masih duduk di SD, kira-kira kurang lebih 3 kilo dari sekolah Putra. Ntah keajaiban apa, ntah mimpi apa juga semalam, ternyata adiknya Mocca sekolah di tempat dimana keponakan Putra sekolah, jadi tiap hari Putra jemput keponakannya selalu bareng Mocca.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, mereka pun sekarang duduk di bangku SMA kelas 11. Kebersamaan mereka membuat mereka menjadi semakin dekat. Bak kuku dengan kulitnya, sepertinya mereka sudah tidak bisa dipisahkan lagi, apalagi mereka mulai menginjak usia 17 tahun, masa fuber yang begitu menantang keduanya. Belajar tentang bagaimana menghadapi masa depan, tentang menghargai dunia, tentang apa yang akan mereka kejar, dan tentang apa yang akan mereka perjuangkan.
Seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir yang berujung di perapian, begitu pula hati dan perasaan, tentang memiliki dan dimiliki. Semuanya terasa singkat bagi mereka, namun mereka membiarkannya seperti udara yang berhembus, dihisapnya perlahan, sampai kejantung.
“Mo, kau tau, pegunungan udaranya lebih segar lho !!”kata Putra sambil membuka tangannya lebar-lebar, dan memejamkan matanya, menikmati udara di sekitar taman kota yang masih lumayan segar.
“oh..yah..kapan kamu bisa bawa aku kesanah??”jawab Mocca.
“Ketika bunga bermekaran, dan matahari melihat kita !!”jawab Putra.
“Mengapa??”Tanya Mocca sambil mengerutkan keningnya.
“Agar aku bisa melihat kamu tersenyum sepanjang waktu, dan saat itulah impian akan terjawab smuanya!!”jawab Putra singkat.
“Bukankah bu guru bilang kalo impian itu gak akan pernah terjawab sampai kapanpu, sampai kita meninggal sekalipun!! Dan bukankah sekarang kamu juga bahagia?? Atau mungkin……… kamu memang belum ngerasa bahagia bersama aku??” Tanya Mocca lagi-lagi takut Putra meragukan perasaannya.
“Mocca, kamu belum mengerti apa itu kebahagian ?! apa kamu juga belum tau bagaimana rasanya memiliki cinta??” jelas Putra.
“Bagaimana??” Tanya Mocca.
“Walaupun jauh, semuanya akan terasa dekat. Walaupun tidak disini, semuanya akan terasa dekat. Walaupun tak bersama, semuanya akan terasa milik kita selamanya, dan selalu bersama selamanya. Mocca… pejamkan matamu,” kata Putra.
Mocca memejamkan matanya, dan Putra pergi, sepertinya membawa sesuatu yang akan ditunjukkan kepada Mocca.
“Buka matamu !!” Putra membawa sesuatu buat Mocca.
“Heppy Birthday Mocca, kamuboleh minta 17 permintaan sama aku, dan aku siap mengabulkannya untuk kamu.!!” Kata Putra, sambil membawa kue dan menyodorkannya ke Mocca. “Tiuplah, !!” sambungnya lagi.
“Makasih Put, aku seneng banget, eitss… tapi darimana kamu tahu tanggal lahir aku,??” Tanya Mocca.
“Itu ga penting Mo, yang terpenting sekarang adalah apa yang akan kamu pertanggungjawabkan di usia kamu yang ke 17 ini?? Jangan lupa lho, hidup itu bukan untuk bersantai-santai !!” Putra becandain mocca.
“Hmm..mm..Put, udah sore, pulang yuk, aku takut dimarahin mamah,!!” Mocca mengalihkan pembicaraan.
“Oh..yaudah hayu!!” jawab Putra sambil membawa peralatan lukisnya.
Mereka pergi, bersama dengan tenggelamnya mentari yang mengiringi kebersamaan mereka.
***
Libur semester kali ini Putra berencana mengajak Mocca untuk menghabiskan liburannya di Garut, kampung halaman Putra. Sekalian mengabulkan permintaan Mocca yang ingin menghirup udara pegunungan.
Meskipun Mocca anak orang orang kaya, tapi Mocca merasa tidak punya siapa-siapa, orang tuanya yang sibuk bisnis, gila harta, dan melupakan kewajibannya terhadap seorang anaknya. Mocca tidak pernah punya waktu untuk bisa bersama-sama dengan keluarganya. Akhirnya Mocca memutuskan untuk ikut Putra pulang kampung.
Diperjalanan, Mocca kelihatan girang, melihat sawah disepanjang jalan, pepohonan yang rindang, udara yang masih sejuk di siang hari. Dan Putra yang sibuk dengan lukisannya.
“Put, mengapa Tuhan menciptakan keadaan berbeda-beda?? Ada yang sejuk, ada yang gersang??”Mocca memulai pembicaraan setelah beberapa jam mereka terdiam masing-masing menikmati sejuknya disepanjang Nagrek.
“Mengapa Tuhan menciptakan lelaki dan perempuan??” Putra membalikkan pertanyaan kembali.
“Supaya aku dan kamu bertemu, dan saling mencintai !! hmm.. hubungannya dengan tempat gersang?” tanya Mocca singkat.
“Kalau Jakarta dan Garut sama-sama gersang, mana mungkin kamu mau diajak ke tempat aku??” jawab Putra.
Mocca hanya tersenyum kecil, sambil minun kopi yang dulu dibawain Putra. Srupuuuuuuuuuuuuuuuut..,
“Mo, apa kamu bahagia??”Tanya Putra.
“Iya bahagia lah Put, aku ngerasa punya dunia baru, punya semangat untuk masa depan.!!”jawab Mocca.
“Tapi…… aku kan ga kaya,seperti teman-teman lelaki kamu yang lainnya??mukaku jelek ga setampan mereka yang ngedeketin kamu??” jelas Putra.
“Put, kalo kamu cakep, aku pasti bakal sering sakit hati, karena banyak wanita-wanita yang deketin kamu !!” dengan nada dingin Mocca menjawab pertanyaan Putra.
Para penumpang bus yang lain ketawa kecil mendengar apa yang diucapkan Mocca.
Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Putra, dan ibunya Putra menyambut Mocca dengan baik. Dengan seadanya bu Fahmi menjamu tamu istimewa itu. Dan tanpa ragu-ragu Mocca juga cepat akrab dengan bu Fahmi.
“Neng, Putra bilang katanya neng Mocca suka yah sama kopi buatan ibu, silakan diminum, mumpung banyak, sepuanya saja. Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri.” Kata bu Fahmi.
“Iyah bu, terimakasih, ibu sudah mau bersikap baik sama sayah, sayah seneng banget bu, seandainya saja saya punya orang tua sebaik ibu, tapi sepertinya itu tidak mungkin yah bu,!!” ucap Mocca seperti mengeluh.
“Halah sudah sana, jalan-jalan gih liat-liat ladang ibu, pohon kopinya banyak lho.” Potong bu Fahmi.”Put.. Put.. ajak jalan-jalan gih Mocca nya, kasian, masa dating jauh-jauh malah mau ngeluh.” Sambungnya lagi.
Putra dan Mocca pamit bersalaman, keduanya mau liat-liat suasana kampung halaman Putra. Putra juga sudah kangen dengan suasana udaranya yang sejuk. Yang ketika dihirup, mengingatkannya akan rutinitasnya sejak kecil yang membuatnya kangen masa-masa dulu, yaitu memetik buah kopi untuk ditumbuk.
Di perbukitan, terlihat jurang yang begitu dalam, di bebatuan yang besar, yang bisa dipakai untuk merebahkan tubuh diatasnya, disanalah keduanya menepi, seakan menghempaskan penatnya Jakarta, dan menghirup kembali suasana pencerahan. Suara gemercik air di sepanjang sungan yang melintas diantara perbukitan, suara burung-burung yang bersiul diantara udara ketenangan, seolah mengumumkan kepada sekitar, bahwa disinilah dua insan yang sedang saling jatuh cinta.
“Mo, percayalah, tidak akan ada wanita lain yang aku tutup matanya. Dan menghadirkan cinta dalam setiap hembus nafasnya. Dan datang dalam titik udara yang dihirupnya. Biarkan jarak terbentang jauh, biarkan alam memisahkan, aku janji hanya nama kamu yang ada di dalam hatiku. Yang terpenting adalah bukan dengan siapa kita hidup, tapi dengan siapa kita mampu saling mencintai. Ta peduli siapa yang mendampingi kita nanti, hanya ada satu nama yang selalu ada dalam do’a-do’a ku, Mocca.” Ucapan Putra yang seolah mencoba meyakinkan kembali bahwa dirinya benar-benar menyayangi Mocca.
Mocca hanya diam, dan sesekali melirik kearah Putra. Mocca merasa aneh, kenapa belakangan ini Putra selalu mengeluarkan kata-kata yang membuatnya deg-degan, bukan karena dia ada di dekat Putra, tapi karena dia takut kehilangan Putra. Takut orang tuanya menentang perasaan mereka.
“Mo, dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia, semuanya beralasan. Begitu pun dengan diriku, aku mencintaimu bukan hanya sekedar cinta, tapi karena hatiku yang memilih. Aku bersamamu juga bukan hanya sekedar suka, melainkan ada milikku yang belum aku miliki, dan aku yakin ada pada dirimu. Kaulah tulang rusukku yang selama ini ku cari.” Sambung Putra lagi-lagi bicara yang membuat Mocca bingung.
“Put, udah sore, pulang yuk, laper lagih, pulang yuk.!!” Mocca merengek ngajak pulang.
“Put..??..Put, kamu ga jawab sih?? Ga mau pulang yah??” Mocca lagi-lagi merengek, tapi tubuhnya masih merebah diatas hamparah batu besar, dan matanya pun masih memandangi langit yang biru yang mulai di hiasi layung kuning.
“Put, kamu tidur yah?? Tidur di rumah ajah, udah sore nih, pulang yuk?!!”Mocca manggil-manggil Putra lagi.
“Put??..Put..”Mocca bangun dan menggoyang-goyangkan tubuh Putra yang tengah kaku. Sepertinya Putra tetidur pulas. Mocca kembali mencoba membangunkan Putra lagi dengan nada suara yang semakin keras. Tapi Putra tetap saja diam membisu. Ooh…… ternyata Putra bukan tidur.
“Putraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..!! bangun Put !! bangun !! Put?? Putra??Put?? kamu tega sama aku??Put?? Bangun Put??!!” Mocca berteriak memanggil-manggil orang yang punya nama Putra, tapi sayang yang punya namanya sudah tak bernyawa lagi. Mocca hanya bisa menangis, tubuhnya lemas tak berdaya, tenaganya habis terkuras untuk berteriak memanggil nama Putra. Mocca berharap ini hanya mimpi buruk, tapi ini bukanlah mimpi, ini adalah kenyataan, kenyataan dalam hidup yang harus dijalani. Kenyataan harus siap untuk tak bersama Putra lagi. Kenyataan untuk merelakan kepergian Putra untuk selamanya.
***
Waktu telah berlalu, seminggu sudah Mocca hidup tanpa kebersamaan Putra. Mocca membaca kembali surat yang sempat ditulis Putra untuknya :
Mocca tercinta
Salam kangen untuk jantung hatiku ;
Semilir angin malam, berhembus menembus tulang sum-sum. Meratapi dusta nestapa. Saat pertama jumpa dengan mu, hatiku merasakan akan ada perubahan yang kau bawa dalam hidupku, yaitu belajar bertahan. Kala itu, hatiku terbang melambung jauh lalu jatuh kedalam sangkarmu. Aku begitu terkesima menyaksikan pesona kharismamu.
Aku yang saat itu merasa bahwa hidupku hanya sia-sia. Aku hidup hanya dari sisa-sisa korban tabrak lari semata. Gumpalan darah di otakku hanya akan mencair jika kematian itu datang.
Setiaap saat aku selalu berusaha menahan, aku melakukannya hanya untuk kamu. Karena aku ingin melihat senyummu. Melihat kamu tertawa.
Sekarang aku tak lagi di sampingmu. Tak bisa menemanimu menghirup udara pagi segar. Tapi ketahuilah, setiap kau tutup matamu, setiap itu pula aku datang dan berdiri didepanmu. Setiap kau hirup udara pagi segar, dalam butiran itulah aku menjengukmu dan masuk kedalam tubuhmu.
Mo, jika kau merindukanku, rentangkan tanganmu, pejamkan matamu, dan hirup udaranya, saat itu kau akan merasakan energy kedatanganku.
Mo, percayalah, tidak akan ada wanita lain yang aku tutup matanya. Dan menghadirkan cinta dalam setiap hembus nafasnya. Dan datang dalam titik udara yang dihirupnya. Biarkan jarak terbentang jauh, biarkan alam memisahkan, aku janji hanya nama kamu yang ada di dalam hatiku. Yang terpenting adalah bukan dengan siapa kita hidup, tapi dengan siapa kita mampu saling mencintai. Ta peduli siapa yang mendampingi kita nanti, hanya ada satu nama yang selalu ada dalam do’a-do’a ku, Mocca.
Mo, dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia, semuanya beralasan. Begitu pun dengan diriku, aku mencintaimu bukan hanya sekedar cinta, tapi karena hatiku yang memilih. Aku bersamamu juga bukan hanya sekedar suka, melainkan ada milikku yang belum aku miliki, dan aku yakin ada pada dirimu. Kaulah tulang rusukku yang selama ini ku cari.
Kamu masih ingat kan kata-kata aku itu.
Mo, belajar yang rajin yah, mulai sekarang kalau kamu ingin kopinya, datang ajah ke rumah, ibu sudah nganggap kamu seperti anaknya sendiri ko.
Putra titip ibu ke Mocca yah.
Sampai ketemu sayangku.
Andanisyahputra
By: Eneng Insan Khoirunnisa
Moccafest Moccasitus Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar