Sabtu pagi awal Oktober 2011. Bagi sebagian besar orang, boleh jadi hari ini waktunya untuk berlibur dari aktifitas kerja atau kuliah. Tapi tidak bagi saya yang mesti masuk kerja di hari libur, Sabtu dan Minggu. Saya kerja di sebuah majalah pariwisata dan gaya hidup di Lampung. Majalah bulanan ini terbilang baru, pertama kali terbit Oktober 2011.
Pagi itu, kondisi badan saya nggak fit. Kepala pusing berat. Saya memang biasa begadang, tapi nggak sampai membuat kepala saya pusing seperti ini. Saya lalu membeli obat sakit kepala di warung dan meminumnya, dengan harapan pusing dikelapa saya hilang.
Namun rupanya obat yang biasa saya minum kalau sedang sakit kepala nggakberpengaruh sama sekali. Karena tuntutan kerja, saya memaksakan diri untuk masuk kerja. Ditengah kondisi kepala yang pening, saya mengendarai sepeda motor menuju tempat kerja di wilayah Way Rarem Pahoman Bandarlampung.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, sampailah saya di kantor. Dengan lunglai, saya menyapa rekan-rekan yang sudah lebih dulu masuk kantor. Mereka menanyakan kondisi saya yang kelihatan tak bersemangat.
Saya bekerja dibagian desain tampilan majalah, yang tentunya membutuhkan ide-ide kreatif dan suasana pikiran yang tenang. Seperti biasa, setelah santai sejenak sambil menonton televisi, saya langsung mengotak-atik pekerjaan saya. Namun saya benar-benar nggak tahan dengan evek layar komputer yang semakin membuat pusing kepala saya.
Nah, saat itu saya melihat rekan saya membuat secangkir kopi mocca. Saya mencium aroma kafein yang aduhai, membuat saya tergoda untuk meminumnya. Tak berpikir lama, saya pun langsung menghampiri teman saya. Untungnya, ada sebungkus mocca yang tergeletak di meja dapur.
Saya lalu meraciknya sendiri. Sebungkus kopi mocca saya tuangkan ke dalam gelas. Sambil menunggu air dispenser panas, saya mencium arona kopi mocca. Wah nikmat aromanya…sesuatu banget. Dengan segelas air panas dari dispenser, saya menyeduhnya.
Dengan sumringah, saya kembali ke meja kerja dengan berteman segelas kopi mocca. Sambil kerja sambil ngopi. Anehnya, saya yang tadinya merasa pusing berat, merasa santai dan rileks setelah meminum beberapa teguk kopi mocca.
Pekerjaan saya mendesain tampilan majalah, berasa lebih gampang dikerjakan. So pasti, modalnya pikiran tenang, jiwa semangat karena efek kopi mocca. Nah, sekarang, kopi mocca bukan hanya menjadi obat dikala pusing. Kopi mocca sudah menjadi teman akrab saya saat bekerja, begadang, dan seusai bangun tidur.
Nah, awal November ini, tim moccafest bagi-bagi kopi mocca gratis disela even climbing day Mapala Unila. Saya yang hadir, tak menyiakan kesempatan untuk menengguk beberapa cangkir kopi mocca. Apalagi yang menghidangkan, mbak-mbak yang gimana gitu, hehe, membuat rasa kopi mocca tambah mantab. Saya mengambil beberapa gelas, sengaja untuk saya bagikan ke rekan-rekan saya. Kopi mocca membuat kami larut dalam canda tawa. KOPI MOCCA…Alhamdulillah ya…
by: Pepy Capuera
http://pepyteknokra.wordpress.com/2011/11/03/pusing-mocca-obatnya/]
Moccafest Moccasitus Lampung
http://pepyteknokra.wordpress.com/2011/11/03/pusing-mocca-obatnya/]
Moccafest Moccasitus Lampung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar